BTS Effect Picu Lonjakan Hotel Dan Wisata Konser Global

Jumat, 13 Februari 2026 | 08:53:59 WIB
BTS Effect Picu Lonjakan Hotel Dan Wisata Konser Global

JAKARTA - Ketika jadwal tur sebuah grup musik diumumkan, biasanya yang paling sibuk adalah penggemar berburu tiket. Namun dalam kasus BTS, dampaknya jauh melampaui antrean penjualan. Pengumuman tur comeback mereka justru mengguncang industri perjalanan global. 

Dalam hitungan jam, bukan hanya tiket yang ludes, tetapi pencarian hotel dan penerbangan di berbagai kota tuan rumah melonjak drastis hingga ribuan persen.

Fenomena ini dikenal sebagai concert tourism atau wisata konser, dan tahun ini disebut-sebut sebagai salah satu pendorong paling menguntungkan bagi sektor pariwisata. 

Platform perjalanan Trip.com menyebut wisata konser diperkirakan menjadi motor pertumbuhan signifikan bagi industri perjalanan. Tur global comeback BTS yang digelar mulai April 2026 hingga Maret 2027 memperkuat tren tersebut secara nyata.

Tur bertajuk "Arirang" akan berlangsung di 34 kota di Asia, Amerika Utara dan Selatan, Australia, Eropa, serta Inggris. Antusiasme tinggi membuat bukan hanya tiket konser yang terjual cepat, tetapi juga akomodasi dan transportasi di kota-kota penyelenggara ikut terdampak.

Lonjakan Pencarian Hotel Yang Fantastis

Dampak paling mencolok terlihat pada data pencarian hotel. Dalam 48 jam setelah pengumuman tur pada 13 Januari 2026, pencarian perjalanan ke Seoul dan Busan masing-masing melonjak 155 persen dan 2.375 persen dibandingkan pekan sebelumnya, menurut platform pemesanan Hotels.com.

Efeknya tidak berhenti di Korea Selatan. Di Kaohsiung, Taiwan, pencarian perjalanan meningkat hingga 6.700 persen secara tahunan untuk tanggal konser pada 19 November, berdasarkan data Booking.com. Angka tersebut menunjukkan betapa besar daya tarik tur ini terhadap pergerakan wisatawan lintas negara.

Menariknya, lonjakan permintaan tidak hanya berasal dari pemegang tiket. Banyak wisatawan tambahan tetap datang ke kota tuan rumah meski tidak mendapatkan tiket konser, sekadar untuk merasakan atmosfer acara berskala global tersebut.

Tiket Terjual Cepat Dan Harga Melambung

Meski wilayah konser diperluas dan jumlah tiket dilipatgandakan, tur terbaru BTS terjual habis hanya dalam 20 menit. Kecepatan ini jauh melampaui tur "Permission to Dance" pada 2021–2022 yang habis dalam 5-6 jam.

Tingginya permintaan membuat banyak penggemar beralih ke pasar tiket sekunder. Di platform resale StubHub, harga tiket "Arirang" tercatat mencapai US$7.276 atau sekitar 40 kali harga asli. Angka tersebut mencerminkan betapa langkanya akses terhadap konser berskala besar ini.

Menurut Chief Marketing Officer Event Tickets Center Ben Kruger, kelangkaan acara seperti tur BTS menciptakan peluang sekali seumur hidup bagi penggemar. 

Situasi ini membuat permintaan melonjak tajam dan menjadikan industri concert tourism sangat menguntungkan. Sebagai perbandingan, festival musik tahunan Coachella menghasilkan pencarian internet sekitar setengah dari jumlah pencarian yang dipicu pengumuman tiket BTS.

Dampak Ekonomi Bagi Kota Tuan Rumah

Lonjakan permintaan juga memicu kenaikan harga akomodasi. Laporan lokal menyebut kamar hotel di dekat pusat transportasi utama Korea Selatan sudah penuh dipesan pada tanggal konser, meski tarifnya lebih dari dua kali lipat harga akhir pekan biasa. Data Hotels.com menunjukkan peningkatan signifikan pencarian hotel bintang tiga dan empat di dekat lokasi konser.

Wisatawan mempertimbangkan jarak ke venue, harga, keamanan, dan kualitas layanan saat memilih akomodasi. Sejumlah hotel bahkan mulai menyesuaikan layanan untuk memenuhi kebutuhan wisata konser. 

Palace Hotel Madrid, misalnya, menyiapkan tim concierge khusus untuk membantu perencanaan transportasi serta pilihan restoran sebelum dan sesudah konser BTS maupun penyanyi Puerto Rico Bad Bunny yang jadwal turnya berdekatan.

Konsultan Euromonitor International, Prudence Lai, mengatakan wisata konser biasanya hanya berlangsung singkat, tetapi mampu menciptakan lonjakan belanja signifikan di kota tuan rumah. Pengeluaran tidak hanya terjadi pada tiket dan hotel, melainkan juga restoran, transportasi lokal, hingga belanja merchandise.

Lai menjelaskan sebagian penggemar memperpanjang masa tinggal beberapa hari, sehingga pola perjalanan mereka mirip pelancong bisnis yang menambahkan agenda liburan. Namun secara umum, wisatawan konser memiliki karakteristik berbeda dibanding wisatawan mewah.

"Mereka hanya membutuhkan tempat untuk tidur lalu pergi ke konser. Ini jenis pariwisata yang sangat berbeda," ujarnya.

Selain BTS, tur global artis seperti Bruno Mars, Harry Styles, dan grup K-pop EXO juga diperkirakan mendorong perjalanan internasional sepanjang tahun ini. Namun skala lonjakan yang dipicu BTS menunjukkan standar baru dalam industri hiburan dan pariwisata global.

Fenomena ini menegaskan bahwa konser berskala besar kini bukan sekadar hiburan, melainkan katalis ekonomi yang nyata. Dari tiket yang ludes dalam hitungan menit hingga pencarian hotel melonjak ribuan persen, efek tur BTS memperlihatkan bagaimana musik mampu menggerakkan arus perjalanan dunia secara masif.

Terkini